plus-plus lokalisasi, pengusaha bisnis nikmat syahwat

ISTILAH “plus-plus” sudah tak asing lagi di telinga masyarakat. Tak lagi berlabel lokalisasi, pengusaha bisnis nikmat syahwat ini menyajikan konsep berbeda dalam label usahanya. Padahal ujung-ujungnya sama, yakni prostitusi. Untuk itu, surat kabar harian Samarinda Pos mencoba menguak bisnis esek-esek tersebut.

ARIS ROSHAN

DI era 1990-an, istilah plus-plus sudah membooming yang digelar di salon-salon kecantikan. Namun kini berevolusi menjadi panti pijat tradisional yang menawarkan kelincahan jemari wanita cantik sembari melepas lelah. Bisnis panti pijat ini kini sudah mewabah, hampir seluruh wilayah di Kota Samarinda terdapat praktik bisnis panti pijat.
Seperti layaknya lokalisasi, panti pijat ini tergolong menjadi tiga kelas berbeda, yakni mewah, menengah, dan kelas teri. Perbedaan golongan itu dikategorikan berdasar harga, fasilitas, pelayanan, serta wanita pemijat atau yang kerap disebut terapis oleh panti-panti pijat kelas atas.
Di lihat dari data Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Samarinda, jumlah panti pijat kelas teri di Samarinda mencapai 20 usaha yang masih beroperasi. Jika diteliti, sebagian besar usaha panti pijat identik dengan nama bunga, dan khas wewangian.
Makanya media ini mencoba menelusuri praktik prostitusi di antara bisnis panti pijat yang ada tersebut. Lokasinya berada di Kecamatan Samarinda Kota. Di sini memang menjamur untuk bisnis panti pijat. Setelah berkeliling sebentar, perjalanan terhenti pada rumah panti pijat yang memiliki salah satu nama bunga. Di rumah ini tepat berada di wilayah yang strategis dekat persimpangan. Lokasinya tidak jauh dengan Samarinda Central Plaza (SCP) sekitar 100 meter.
Rumah sederhana ini tidak nampak layaknya tempat usaha. Hanya plang nama bagian depan menunjukkan rumah tersebut adalah panti pijat. Halaman parkir tidak begitu luas. Dari luar, tidak nampak jelas kaca sengaja dipasang gelap.
Ketika memasuki rumah itu, barang-barang mewah menghiasi ruang tamu panti pijat tersebut. Tempat duduk dipajang menggunakan sofa. Tujuh wanita sedang asyik mengobrol sambil melihat tayangan televisi. Pakaian yang dikenakan sangat sederhana, memakai kaos lengan terbuka serta menggenakan rok atau celana panjang sebatas lutut. Tidak nampak riasan tebal. Jika dilihat sepintas, wanita tersebut seperti ibu rumah tangga.
Satu kali pelayanan pijat dengan durasi 1 jam, mematok harga Rp 125 ribu. Tarif ini dibandrol hampir sama di setiap panti pijat tradisional. Namun biasanya usai memijat, mereka meminta tambahan atau fee.
Agar bisa dipijat, para tamu biasanya diminta memilih sesuai selera. Mau bertubuh gempal atau kurus tinggal menunjuk saja, wanita itu akan membawanya langsung ke salah satu dari tujuh kamar yang ada. Di kamar itu, hanya bersekat papan dan pintu masuk hanya berupa kain. Berukuran sekitar 1,5 x 2,5 meter, terdapat ranjang setinggi pinggang orang dewasa, sebuah kipas angin dan asbak yang ditaruh di atas meja kecil, padahal ada AC. Di sebelah meja terdapat sebuah kursi.
Ketika memulai terapi, biasanya lampu dibuat remang-remang dan dipadu iringan musik lembut. Selama terapi, pemijat akan mengajak tamunya mengobrol agar lebih dekat. Sebut saja namanya Anggun, wanita berusia 21 tahun yang kini berstatus janda beranak satu. “Dari mana mas,” sapa awal Anggun sambil memulai terapi pada jari-jari kaki. Pertanyaan ini sudah menjadi tradisi di setiap panti pijat mengawali obrolan dengan para tamu.
Sambil terapi, obrolan-obrolan nakal akan muncul. Ini sebagai pembuka penawaran plus-plus. Ada istilah lain pula menghaluskan praktik prostitusi. Bahasanya bisa dengan terapi alat vital dan terapi andalan. Padahal pengertian terapi alat vital adalah memainkannya sedangkan untuk terapi andalan yakni berhubungan badan.
“Untuk terapi alat vital biasanya tarifnya Rp 150 ribu dan terapi andalan Rp 300 ribu. Tarif ini standarnya dan di luar untuk pijatnya,” tuturnya menjabarkan praktik plus-plus.
Tak sedikit tamu menawar. Namun tergantung cara lobi para tamu. “Kalau umumnya pijat dan terapi ‘itunya’ (plus-plus, Red) dijadikan satu, tarifnya Rp 400 ribu, paling banter Rp 350 ribu. Itu kalau tamu menjadi langganan,” imbuhnya.
Jika cocok, biasanya tamu meminta nomor telepon pemijatnya. Tamu akan kembali lagi. Bahkan ada pula menawarkan mengajak keluar dengan alasan jika minta dipijat di hotel. “Tapi saya tidak bisa sih. Karena ada anak satu, jadi tidak bisa melayani ke luar. Kalau teman-teman lainnya mungkin ada juga bisa. Karena kita kerjanya dua shift mas, jam 10 pagi sampai jam 5 sore, dan shift sore dari jam 5 sore sampai jam 10 malam,” ucapnya.
Praktik prostitusi berkedok panti pijat ini sebenarnya sudah sejak lama. Namun dalam pengungkapannya, belum pernah sekalipun dapat dibuktikan pemerintah maupun kepolisian. Padahal kini bukan lagi rahasia umum sebagian besar panti pijat tradisional di Samarinda juga melakukan praktik prostitusi. (***/waz)
Sumber:http://www.sapos.co.id/index.php/berita/detail/Rubrik/9/26450

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: